Postingan

BUONGIORNO, SANTRI

Gambar
sumber gbr: https://cdn.medcom.id/ Dengan bangganya, seorang kawan bercerita kalau anaknya masuk pesantren. Satu harapannya, kelak setelah lulus dan terjun ke masyarakat, sang anak bertumbuh menjadi pribadi yang bertaqwa pada Tuhannya, bangsa, negara, dan orangtua. Tapi apa daya, pupuslah harapan itu. Di akhir tahun kedua nyantriknya, sang anak dikeluarkan dari pesantren, karena dinilai berperilaku tidak jujur. Kawan saya termenung, tapi kemudian menerimanya dengan ikhlas. Resolusi Jihad Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dicetuskan K.H. M. Hasyim Asy'ari menegaskan dua hal, yaitu agar Pemerintah Republik Indonesia “bersikap” melawan Belanda dan kaki tangannya, dan meminta (umat Islam) melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia. Sejak itulah, semangat melawan penjajah berkobar-kobar, bahkan rela mati demi kemerdekaan Republik Indonesia.  Kepeloporan para ulama dalam mewujudkan rasa cinta tanah air merupakan bukti keislaman yang mendalam,

Nol Rupiah Kelahiran Anakku, Ditanggung BPJS

Gambar
 Tangerang Selatan, 10 Maret 2020, anak lelaki keduaku lahir dengan selamat. Bahagianya aku dan istriku, sampai tak bisa berkata-kata lagi. Kelahiran anak keduaku cukup mendebarkan. Karena suatu alasan, istriku lebih memilih untuk melahirkan dengan secara caesar (SC).  Aku tidak keberatan. Aku dukung sepenuhnya keputusannya. Karena bagiku, kenyamanan dan ketenangannya di kehamilan kedua ini adalah yang utama. Dan, kami berharap kelak saatnya tiba, anakku lahir ke dunia dengan selamat dan sehat. Selain faktor kenyamanan batin, faktor biaya menjadi pertimbangan yang lain. Tentu, kami telah siapkan biaya persalinan secukupnya untuk berjaga-jaga. Paling utama tentu kesehatan bayi dan ibunya. Maka, berapapun biaya yang dibutuhkan tetap perlu disiapkan dengan baik.  Aku dan istri sempat googling , survei RSIA ini dan itu, demi mendapatkan harga yang pas, dan tentu saja pelayanan dokter yang maksimal. Akhirnya, berkat bantuan petugas kesehatan di klinik faskes pertama, kami disarankan untuk m

Pergi Ke Lain Dunia

Gambar
Hari-hari belakangan, aku merasa tak betah tinggal di bumi. Tidak saja karena semakin panas karena menipisnya lapisan Ozon, tetapi juga menipisnya kesabaranku. Secepatnya, aku ingin melihat luasnya dunia, aneka warna bunga, dan beragam bentuk mobil mainan dengan segala mereknya. Sini, beri aku sayap, maka akan kuterbangkan mimpi-mimpiku setinggi langit yang paling tinggi. Kibaskan pengharapan dengan semangat dan pengorbanan, niscaya akan bisa kulihat terang keajaiban. Aku tak betah tinggal di bumi, yang serasa semakin asing dan tak bisa dikenali. Ia mengikis kearifannya sendiri. Alasannya karena bumi memang sudah semakin dalam terendam oleh air kesombongan. Tahukah kamu, kalau selama ini aku hanya bisa menikmati diriku sendiri. Aku punya dunia sendiri. Di kamar ini. Di ponsel ini. Agh, ya. Tak mungkin kalian (orang-orang dewasa) bisa mengerti yang aku rasakan. Sebab kalian berpikir dari kacamata kalian sendiri, tak pernah gunakan kacamataku.  dokpri Memang pernah ayahku gunakan kacamat

Bu Tejo (dan Kita)

Gambar
Menilai sebuah film, memberi pendapat tentangnya, apakah itu tema, tokoh, setting, maupun musiknya adalah kebebasan hermeneutik penontonnya. Orang bisa berdebat, berbeda pendapat. Bahkan para sineas pun tidak pernah memaksa pemahaman para penontonnya dengan satu tafsir.  Begitu pun dengan pendapat yang menganggap sebuah film atau tontonan yang sejatinya hiburan akan menjadi "tidak menghibur" lagi jika ditafsir dengan kajian-kajian serius. Ya. Silakan saja. Tokh sejatinya sebuah tontonan pasti dibuat dengan tujuan tertentu. Bahkan untuk sekadar "iseng" juga sudah merupakan tujuan. Nah, ada satu film yang sedang viral belakangan, karena temanya yang sangat dekat dengan kita. Tentang pergunjingan dan menggunjingkan; bukankah itu candu yang memabukkan? Yang dengan bebas, saya komentari dengan penafsiran versi saya sendiri. Dan, Anda pun bebas untuk menafsirkannya ataupun tidak. salah satu tangkapan layar di film "Tilik" Berikut tulisan saya di  kompasiana   de

The Power of Love

Pagi-pagi sekali, ia (sebut saja Pak Dar) sudah berangkat menyusuri jalan Kalimalang menuju Pasar Minggu. Di setang motornya, bergelantungan tas dinasnya, satu botol minuman, dan satu botol plastik ukuran 1 liter berisi premium. Kok premium? Iya, selain untukberjaga-jaga untuk kebutuhannya sendiri, botol isi premium tersebut juga disiapkan untuk orang-orang lain yang membutuhkan. Benarlah, belum seratus meter dari jalan Curug Kalimalang, Pak Dar melihat seseorang sedang menu ntun sepeda motornya dengan tergesa. Tanpa basa-basi, ia langsung berhenti persis di depan pengendara motor tersebut, seolah menghadang. Pengendara kaget dan bingung. Pagi-pagi buta begini, segala kemungkinan terburuk pun mungkin saja terjadi. Maka, si pengendara semakin bergegas menuntun sepeda motornya. Ini Jakarta, Bung! Lengah sedikit nasib orang bisa berubah dalam hitungan detik. Pak Dar menyadari hal itu, sebab hampir setiap hari ia mengalaminya. Pak Dar melempar senyum, lalu menyapa: "Mogok mas.

Covid-19, WFH, dan Anak

... Pagi ini, si anak sulung yang masih umur 5 tahun, tiba-tiba bertanya, "Ayah, masih kerja online?" Tiga detik saya terdiam. Entah apa yang "merasukinya", sehingga pagi persis setelah dia bangun, menanyakan perihal pekerjaan ayahnya. ... selengkapnya di link kompasiana -->  Covid-19, WFH, dan Anak

AGH, PENSIUN?

Gambar
"Niatnya persiapan pensiun; buat kue, tapi gak enaaak." Seorang ibu, di usia jelang pensiun, mengupload kue hasil olahannya, di FB. Hati saya meleleh. Kenapa? Wajarlah, karena ibu ini tidak terbiasa membuat kue, di luar pekerjaannya sehari-hari. (ilustrasi) www.liputan6.com Di belahan "negeri" yang lain, banyak pegawai senior yang tidak mempersiapkan apa-apa menjelang pensiunnya, kecuali menunjukkan muka masam dan mengeluh;  - "Tampaknya kita sedang disingkirkan!"  - "Kok, sekarang banyak merekrut anak muda?" - "Sungguh tidak manusiawi, masak aku diminta mundur sebelum pensiun?" Tidak bisa disangkal bahwa hampir setiap pegawai mengalami "kecemasan" menjelang usia pensiun. Definisi pensiun terlanjur mendekati perspektif tidak berdaya, tidak berguna, tidak produktif.  Sikap ini yang ditunjukkan kebanyakan orang. Bahkan sekalipun ia pensiun dengan ratusan juta pesangon.  Tetapi, aktivitas membuat kue, seperti yan