Postingan

Menampilkan postingan dengan label humaniora

Pergi Ke Lain Dunia

Gambar
Hari-hari belakangan, aku merasa tak betah tinggal di bumi. Tidak saja karena semakin panas karena menipisnya lapisan Ozon, tetapi juga menipisnya kesabaranku. Secepatnya, aku ingin melihat luasnya dunia, aneka warna bunga, dan beragam bentuk mobil mainan dengan segala mereknya. Sini, beri aku sayap, maka akan kuterbangkan mimpi-mimpiku setinggi langit yang paling tinggi. Kibaskan pengharapan dengan semangat dan pengorbanan, niscaya akan bisa kulihat terang keajaiban. Aku tak betah tinggal di bumi, yang serasa semakin asing dan tak bisa dikenali. Ia mengikis kearifannya sendiri. Alasannya karena bumi memang sudah semakin dalam terendam oleh air kesombongan. Tahukah kamu, kalau selama ini aku hanya bisa menikmati diriku sendiri. Aku punya dunia sendiri. Di kamar ini. Di ponsel ini. Agh, ya. Tak mungkin kalian (orang-orang dewasa) bisa mengerti yang aku rasakan. Sebab kalian berpikir dari kacamata kalian sendiri, tak pernah gunakan kacamataku.  dokpri Memang pernah ayahku gunakan kac...

Bu Tejo (dan Kita)

Gambar
Menilai sebuah film, memberi pendapat tentangnya, apakah itu tema, tokoh, setting, maupun musiknya adalah kebebasan hermeneutik penontonnya. Orang bisa berdebat, berbeda pendapat. Bahkan para sineas pun tidak pernah memaksa pemahaman para penontonnya dengan satu tafsir.  Begitu pun dengan pendapat yang menganggap sebuah film atau tontonan yang sejatinya hiburan akan menjadi "tidak menghibur" lagi jika ditafsir dengan kajian-kajian serius. Ya. Silakan saja. Tokh sejatinya sebuah tontonan pasti dibuat dengan tujuan tertentu. Bahkan untuk sekadar "iseng" juga sudah merupakan tujuan. Nah, ada satu film yang sedang viral belakangan, karena temanya yang sangat dekat dengan kita. Tentang pergunjingan dan menggunjingkan; bukankah itu candu yang memabukkan? Yang dengan bebas, saya komentari dengan penafsiran versi saya sendiri. Dan, Anda pun bebas untuk menafsirkannya ataupun tidak. salah satu tangkapan layar di film "Tilik" Berikut tulisan saya di  kompasiana   de...

MERAJUT PERTIWI (YANG TERKOYAK)

Gambar
Sebuah cahaya menyorot  pada sosok perempuan;  Ayu Dyah Pasha  mulai lantang bermonolog, mengawali  cerita: … Melalui masa lalu, kami berada di sini Kami berjuang berdamai dengan masa lalu Kami berjuang bersama, merajut masa depan yang lebih baik Dalam suara lembut namun kuat, Ayu menegaskan bahwa kisah (nyata) para pelakon adalah kisah pendamaian masa lalu. Lalu dengan penuh keyakinan, mereka berjuang bersama, merajut masa depan yang lebih baik. Drama musikal, yang dipentaskan pada 10 Februari 2018 ini, berisi lima kisah dengan latar belakang berbeda. Kisah pertama , bercerita tentang Uli yang menderita karena ayah dan kakaknya yang tidak peduli padanya. Kisah kedua adalah kisah pilu Irma yang sejak lama tidak berjumpa dengan ayahnya. Kisah ketiga bercerita tentang seorang gadis remaja, Grace, yang berupaya menyenangkan ibunya di tengah kemelut keluarga. Berlanjut ke kisah keempat , kisah kejenakaan Desi bersama ...