Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

NOTO ATI

Gambar
  “ Aseem. Metua Njul, Panjul !” ( Keluar kamu Panjul ).  Pagi yang sejuk tetiba riuh oleh gelegar suara Gudel yang berteriak-teriak di depan rumah Panjul. Laki-laki dengan perawakan tubuh yang gempal menambah bobot aura premanisme. Seolah-olah, hanya dia yang punya kuasa atas dunia ini.  “Panjuuulll….!” Yang empunya nama masih belum tampak batang hidungnya. Dilihat dari kontur rumah yang berdinding bambu, seharusnya Panjul mendengar teriakan Gudel dengan jelas. Tiga menit berlalu. Gudel mulai gelisah. Wajahnya semakin garang. Dihunusnya gobed (senjata tajam mirip bendo) dari werangkanya.  “Njul. Aja pura-pura budheg . Aku itung tekan telu. Kalau kamu gak keluar, omahmu tek bakar temenan kiye !” Rumah Panjul masih tetap sunyi. Tapi, lampu teplok tampak menyala. Padahal, biasanya Panjul selalu mematikan lampu tepat waktu. Entah. Belum ada satu pun tanda-tanda kalau Panjul berada di dalam rumah.  Waktu terus berputar.  “Siji… Loro…! Njuuuul…!” Suara Gudel se...

ROBOHNYA PANGGUNG KARYO

Sebuah Cerpen Bagi Karyo, pantang berdebat dengan Salmah, istrinya. Apalagi perihal remeh temeh menyangkut urusan dapur. Bukan karena tak sepaham. Tetapi, bagi Karyo, Salmah lebih paham urusan belakang. Namun, tentang satu hal ini, Karyo merasa perlu tak bisa lagi berdiam diri.   “Sudahlah.  Bune  tidak usah  cawe-cawe!  Semuanya sudah diatur!” “Diatur bagaimana pak. Hutang kita masih banyak! Lha kalau bapak  nyalon kades  lagi, terus hutang-hutang itu mau dibayar pake apa: Pasir?! Daun?!” sahut Salmah kesal. “ Bune  percaya saja sama bapak-bapak di atas. Mereka yang urus semua.” “Aku cuma percaya pada Gusti Allah, pak!” “Bukan begitu, bu. Pengalaman pahit pilihan kades periode yang lalu, membuat bapak belajar. Sekarang bapak harus bisa lobi anu, pejabat ini, pejabat itu, termasuk para tokoh masyarakat, mulai dari tetua desa, para ulama, kelompok-kelompok pengajian dan lain-lain. Termasuk, yang tidak kalah penting adalah moho...

Cerpen: Ironi Kartidjo (1)

Setengah mengeluh, Kartidjo tetap bekerja menghitung surat suara. Sebentar dilongoknya arsip dan berkas-berkas dari kabupaten. Satu persatu, tangannya yang mulai merenta, membolak-balik data nama pemilih. Kacamatanya yang berbingkai hitam tebal, menambah kesan ketuaan. “Ini kopinya, Pak!” Salimah menyodorkan segelas kopi pahit kesukaannya. “Taruh saja di situ, Bune !” Jawab Kartidjo tanpa menoleh. “Karmin ke mana, Bune ?” “Ada apa, Pak!” Karmin tiba-tiba menyahut dari balik pintu sambil menenteng sepatu bututnya. “Lho, sepatumu kok dicangking, le ?” “ Kecebur sawah, Pak. Tadi jalan di tegalan licin. Teruus...” “Ya, sudah. Banyak alasan. Nanti setelah kamu mandi, kamu pasang spanduk pilihan gubernur ini di balai desa!” kata Kartidjo. Mendengar permintaan bapaknya, Karmin hanya mengangguk. Karmin tahu, perintah bapaknya adalah harga mati, tak mungkin ditolak. Meskipun niat semula Karmin ingin bermain sepak bola di lapangan desa, tapi Karmin segera mengurungkan niatnya. ...